Sumber : www.krishnafinland.com
Kelahiran dan Kematian merupakan dua kata yang berkorelasi dalam tatanan Agama Hindu. Agama Hindu
mengisyaratkan bahwa apa yang pernah terlahirkan pasti akan menemui
kematian, begitu pula sebaliknya apa yang sudah "mati" maka akan
terlahir kembali mengikuti hukum semesta.
Seperti halnya di dalam Bhagawad Gita II. 27 menyebutkan;
jatasya hi druvo mrtyur dhruvam janma mrtasya ca
tasmad apariharye'rthe na tvam socitum arhasi
Artinya:
Karena
pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada
yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau
seharusnya tidak bersedih hati.
Manusia harus mengetahui
jati dirinya hidup. Bila tak mengerti dan memahaminya, akan banyak
keterikatan yang akan membelenggu kehidupan. Lahir, hidup kemudian mati, banyak kisah yang harus dilalui
manusia. Sakit, senang, kegagalan hidup, tua, dan akhirnya meninggal.
Hal itu pun berulang sampai ribuan hingga jutaan kali oleh jiwa yang
sama dengan badan berbeda. Namun, dilematisnya tidak semua manusia bisa
meningkatkan diri agar bisa lepas dari kelahiran berulang-ulang itu
(Punarbhawa).
Dengan menyadari proses punarbhawa, setiap manusia hendaknya mensyukuri
hidupnya karena lahir menjadi manusia sangatlah utama dan sulit
diperoleh, jangan sampai lahir kembali pada kehidupan yang lebih
rendah dan mulailah mempersiapkan hidup dari sekarang.
Punarbhawa adalah salah satu dari lima dasar keyakinan umat Hindu
(Panca Sraddha). Proses ini dilalui oleh atma sampai jutaan kali,
sebelum bisa mencapai Moksa. Diakui dosen di Universitas Hindu Indonesia
(UNHI) Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa M.Si., orang seringkali lupa
siapa jati dirinya, sehingga hal inilah yang mengikat hidupnya penuh
rasa ketakutan, bahkan sampai ajal menjemputnya. Hal tersebut terjadi, karena kurang pahamnya manusia dengan esensi hidup.
“Esensi hidup, esensi kita
dilahirkan di dunia itu harus diketahui dulu. Dalam Agama Hindu, hakikat
dilahirkan sebagai manusia adalah untuk memperbaiki diri, agar bisa
mencapai kesempurnaan, yaitu Moksa,” ujar Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa M.Si.
Moksa
merupakan tujuan tertinggi umat Hindu. Moksa memiliki arti, yakni
pelepasan atau kebebasan. Maksud dari kebebasan disini adalah
kebahagiaan dimana Atman (jiwa) dapat terlepas dari pengaruh maya dan
ikatan Subha-Asubha Karma, serta bersatunya sang Atman dengan Brahman
(Tuhan).
Sedangkan Surga dan Neraka menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, dalam pandangan Agama Hindu terutama yang berlandaskan pada kitab-kitab purana, Surga dan Neraka merupakan kondisi yang dialami oleh seluruh roh ketika dia mengalami proses kematian. Artinya, kita sudah pasti masuk Surga dan Neraka.
Kita menikmati kehidupan di Surga dan Neraka
tergantung karma kita. Kalau kita lebih banyak berbuat buruk, berarti
waktu yang kita habiskan lebih banyak di Neraka. Begitu juga sebaliknya. Jadi dengan demikian, dalam pandangan Agama Hindu setiap roh pasti merasakan Surga dan Neraka. Surga diterima sebagai ganjaran terhadap karma baik. Neraka adalah
ganjaran daripada karma buruknya.
Demikianlah Kelahiran dan Kematian dalam ajaran Agama Hindu, manusia hendaknya bersyukur dengan mengisi hidupnya pada
sesuatu yang lebih baik dan tetap berpegang teguh pada Dharma (kebenaran) dalam memperoleh Artha (kekayaan) dan memenuhi Kama (nafsu/keinginan) hingga
berhentilah proses Punarbawa sehingga bisa mencapai Moksa atau paling tidak dilahirkan pada tingkat kehidupan yang lebih tinggi.
Sumber :
Direktorat Jendral
Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Republik Indonesia, 2016, Buku Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Pendidikan Agama
Hindu, Jakarta.
https://phdi.or.id
https://baliexpress.jawapos.com
https://bali.tribunnews.com
Komentar
Posting Komentar